Islam dan Keteraturan

Membaca link pada sebuah status seorang sahabat, saya merasa sayang apabila tidak dibagikan kepada sahabat-sahabat yang lain.

***
Barangkali, yang kita ketahui adalah stigmatisasi minor yang diarahkan kepada umat Islam; di antaranya adalah bahwa umat Islam tidak mungkin bersatu, tidak mungkin teratur dalam satu barisan. Atau, barangkali umat Islam sendirilah yang pemahamannya terlanjur disusupi propaganda negatif, sehingga beranggapan bahwa keteraturan umat Islam seperti yang Alloh kehendaki sebagaimana tersurat di dalam Al Quran hanyalah angan-angan semata; kesatuan umat di bawah naungan Islam hanyalah kisah masa lalu belaka.

Inna nahnu nazzalna adz-dzikro wa inna lahu lahafizhun.” Sesungguhnya, Alloh telah memberikan peringatan kepada kita dengan Al Qur-an yang mulia, dan Alloh senantiasa menjaganya dengan hafalan orang-orang sholih dan fakta-fakta di alam semesta. Dan bahwa umat Islam adalah umat yang memiliki potensi paling besar untuk bersatu padu, Alloh pun memberikan tarbiyah-nya kepada kita; sebagaimana tergambar pada kisah berikut yang saya kutip dari status seorang sahabat dengan sedikit suntingan.

***
Adalah Dr Yahya, seorang da’i, beliau menceritakan satu kisah, seseorang Amerika Non-Muslim yang memperbincangkan tentang Islam seraya menyaksikan sebuah program Live (siaran langsung) di sebuah channel televisi. Orang Amerika tersebut sangat kagum dengan dengan kerumunan orang-orang di Masjidil Haram. Ada lebih dari tiga juta orang pada waktu itu yang berkumpul untuk sholat isya pada malam terakhir bulan Romadhon. Kondisinya sangat ramai dengan kerumunan orang-orang yang saling hilir mudik tidak beraturan.

——————————————————————-
► Sang da’i bertanya kepada orang Amerika tadi :
——————————————————————-
[“How long do you think they’ll take to organize themselves in rows & start the Salaat ?”]
[“كم من آلوقت يحتـآج هؤلآء لكي يكونوا في صفوف منظمة في رآيك؟”]
[“Menurut anda, berapa lama waktu yang dibutuhkan supaya orang orang itu bisa baris dengan rapi ?”]

——————————————————-
► Dan orang Amerika itu pun menjawab :
——————————————————-
[“At least 2-3 hours.”]
[“.سـآعتين آلى ثـلآث سـآعآت”]
[“Dua sampai tiga jam.”]

—————————————-
► Dan da’i tadi menyatakan :
—————————————-
[“But the masjid (Haram) of Kaaba is 4 floors.”]
[“آن الحرم آربعة آدوآر”]
[“Itu Masjidil Haram punya 4 tingkat loh.”]

—————————————–
► Si Amerika pun menjawab :
—————————————–
[“Oh, this will make it about 12 hours then.”]
[“!إذن 12 سـآعه”]
[“Kalo gitu, butuh waktu dua belas jam.”]

—————————————————–
► Sang da’i pun kembali menjelaskan :
—————————————————–
[“Put in your mind that they are from countries all over the world with different languages.”]
[“آنهُم مختلفوا آللغـآت”]
[“Mereka yang kamu lihat di TV itu datang dari negara berbeda & juga berbeda bahasa antara satu dengan yang lainnya.”]

—————————————————————————
► Kembali orang Amerika itu mengubah pernyataannya :
—————————————————————————
[“Then it’s impossible to organize them by any means!!“]
[“!!هؤلآء لآ يُمكن آصطفافهُم”]
[“Wah, kalo gitu mereka sama sekali gak mungkin bisa dibariskan.”]

—————————————————————————————————————
► Akhirnya, waktu ditegakkannya sholat tiba dengan tanda suara Iqomah.
Tampak Syaikh ‘Abdur-Rohman as-Sudais [Imam Besar Masjidil Haram] berdiri di posisi paling depan seraya berkata :
—————————————————————————————————————
[“Istawuu..!”]
[” آستووا “]
[“Arrange yourselves!”]
Yang artinya “Luruskanlah shof/ barisan kalian masing-masing”.

Maka berdirilah jutaan jamaah tersebut dalam shof-shof/ barisan yang tersusun menjadi rapi; dan hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari dua menit. Lihatlah betapa agungnya agama ini, dengan memiliki sistemnya sendiri!

————————————————————————————————————–
► Si Amerika tadi terperanjat dengan argumennya sendiri yang dipatahkan oleh kenyataan yang ada di depannya.
Dipandanginya layar TV sejenak, dan kemudian ia mengucapkan :
————————————————————————————————————-
[“أَشْهد أَنْ لاَ إِلَـه إِلاَّ الله , وأَشْهد محمد رسول الله”]

***

Sahabat,
Sungguh umat Islam itu adalah umat yang satu. Yang kita butuhkan adalah, “satu keyakinan untuk dapat melakukan suatu aksi,” demikian kata Dr. Yahya. Nah, untuk bisa memiliki keyakinan yang mantap, kita perlu menyuburkan wawasan dan pemahaman Robbani. Maka, belumkah tiba masanya bagi kita untuk memakmurkan majelis-majelis ilmu di masjid-masjid kita? Padahal, itulah kunci kesatupaduan umat Islam. Belumkah membuncah rindu di hati kita untuk senantiasa berkumpul dengan orang-orang yang berkeinginan kuat, baik untuk senantiasa meningkatkan keimanan diri maupun menyemai iman di hati saudara-saudaranya? Padahal, itulah langkah awal yang dicontohkan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat rodhiyallohu ‘anhum dalam menorehkan tinta emas kejayaan Islam. Ataukah kita terlena, sehingga lupa harapan kita akan janji surga?

Surga ‘Adn; mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang sholih dari bapak-bapak mereka, isteri-isteri mereka, dan anak-cucu mereka, sedang malaikat-malaikat masuk (berkunjung dan memberikan ucapan selamat) ke tempat-tempat mereka dari semua pintu,” QS Ar Ra’d [13] : 23.

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply