Pelatihan Kaderisasi dan Makrab 2016

img-20161113-wa0002

Assalamualaikum, Wr, Wb.

Penghujung Akhir tahun 2016 menjadi bukti nyata kebangkitan Remaja Masjid Al-Anhar. Kebangkitan ini ditandai dengan adanya Program besar yang terealisasikan beberapa hari yang lalu, tepatnya hari Sabtu-Minggu, Tanggal 12-13 November 2016 di Rumah Bp. Rawana, Dusun Sawo, Desa Wirokerten, Banguntapan Bantul dan diikuti sekitar 40 orang. Sejak awal, program ini bertujuan untuk menjaring generasi generasi Ramah yang unggul dan mandiri, sehingga bisa menjadi pengganti Ramah yang berkualitas dan berintegritas. Sasaran yang dituju adalah remaja yang berusia 12-15 tahun atau setingkat kelas 6 SD sampai kelas 3 SMP. Penjaringan ini di lakukan sejak dini guna memberikan pengalaman dan pembelajaran dalam berorganisasi, terutama organisasi masyarakat yang secara langsung menghadapi dan memecahkan masalah (Problem solving) di lingkungan Masjid.

Konsep traditional-essential menjadi salah satu pilihan untuk mengedukasi para peserta agar menghargai sebuah kesederhanaan dan kesahajaan. Konsep ini diambil berdasarkan kondisi lokasi yang menggambarkan nuansa keasrian. Gagasan dan ide dirumuskan melalui pengamatan dan perhatian Panitia Penyelenggara (Ramah dan KKN UAD 2016) sebagai upaya pencegahan terhadap prioritas hidup yang individual dan egois di era syubhat. Kesederhanaan dan kesahajaan merupakan symbol kesyukuran atas sesuatu yang diberikan Allah kepada manusia, sekecil apapun pemberikan itu sangatlah bermakna manakala diposisikan secara adil dan bijaksana. Esensi dari Kesederhanaan adalah penyeimbang (equilibrium) dalam kesenjangan antara kaum proletar dan borjuis, kaum terangkat dan termarginalkan (kutub negative-positif), secara subyektif haruslah dijadikan pegangan dalam berinteraksi dan bersosial. Konsep ini dapat menyadarkan individu terhadap eksistensinya sebagai makhluk sosial (zoon politicon). Setiap individu haruslah memiliki rasa kesederhanaan dalam menjalani suatu tujuan yang sama, agar tidak ada gap di internal komunitas. Cara inilah yang dapat membentuk ikatan solidaritas yang kuat antar individu (solidaritas mekanik). Frekuensi rasa solidaritas bertambah ketika ada wadah yang mampu mengakomodasi kepentingan dan tujuan yang sama. Oleh karena itulah kegiatan ini sebagai bentuk regenarasi Ramah untuk periode yang akan datang, dengan membentuk komunitas Pra Ramah sebagai wadah perjuangannya.

Kegiatan ini dimulai pada jam 17.20 WIB, dengan agenda pemberangkatan awal ke lokasi dengan menggunakan mobil, dan diiringi rombongan motor dari KKN UAD. kemudian, para peserta mempersiapkan diri untuk sholat maghrib di Pendopo, sekaligus pembukaan dan tausyiah oleh Ramah dan KKN. Dengan model semangat ‘45’ Mas Ferry dan Mas Febri mendobrak semangat peserta dengan tepukan tepukan memukau, dan menggembirakan. Peserta yang layu segera segar dan harum kembali, bak disiram dengan air aren. Setelah itu, peserta sholat isya’, tanpa disadari, banyak terdengar kicauan perut yang berdering dan beriringan, berpindah dari tempat satu ketempat lainnya. Rasa lapar yang tak tertahankan ini terobati setelah datang wanita cantik pembawa kabar gembira, dengan melodi yang mendayu ndayu, apalagi kalau bukan jepretan bungkus nasi padang. Setelah peserta puas dan kenyang, maka acara di teruskan dengan pemberian materi oleh Pemateri –temannya mas Kuncoro (KKN)-, dengan gaya kediktatoran memberikan materi dengan model orasi kebangsaan untuk tentara amatiran, nilai nilai yang disampaikan kaya akan kemanusiaan dan kepemimpinan. Setelah materi selesai, saatnya bersenang senang, amunisi yang disimpan oleh peserta sejak tadi pagi, ditembakkan dengan tepat dan cepat. Ya, acaranya bakar bakar jagung manis, dan didampingi oleh sunan kali code, Mas Yahya dan antek anteknya. Pada saat acara berlangsung, pihak takmir mengunjungi lokasi kegiatan kami dengan bangga dan penuh harapan, agar generasi penerus ini mampu untuk menjalankan dakwah nabi secara hakiki.

Malam semakin larut, suara jangkrik bersahut sahut dengan keras. Kami pihak penyelenggara menginstruksikan peserta untuk istirahat. Pada saat peserta tertidur tepatnya pukul 02.30 WIB, panitia segera melakukan aksi jurit malam untuk peserta Makrab, dua orang dibangunkan dan diberikan tantangan setiap posnya. Keheninganpun berubah menjadi kegaduhan dan kesemrawutan nyali, sebagian peserta takut dan sebagiannya tidak takut. Acara ini dijadikan ajang untuk menguji mental dan nyali peserta. Setelah semua selesai, para peserta mengerjakan qiyamul lail dan istirahat kembali. Adzan shubuh berkumandang, tanda waktu sholat sudah sah ditegakkan, kamipun segara melaksanakan ibadah fajr dan meneruskan dengan tadarusan.

Mentaripun terbit dari ufuk timur, menandakan masih ada kesempatan hidup sebelum kiamat menerjang. Para peserta di berikan arahan dan bimbingan untuk mengikuti acara outbond yang diselenggarakan oleh Ramah dan KKN UAD, seraya menyantap hidangan pagi. Setelah itu, setiap individu di arahkan untuk bergabung dengan kelompoknya masing masing, dan diberikan tantangan oleh Mas Ferry di pos pemberangkatan. Konsep outbond yang dilakukan adalah duel atau VS, sehingga tampak jelas dari kelompok yang unggul dan bejo dengan kelompok yang tangguh. Pada pos pos selanjutnya diisi oleh pihak KKN, dengan melakukan permainan bola-air dan sarung, sangatlah seru bahkan terasa semangat gelora mas mbak KKN dalam mengikuti acara ini seperti jago merah yang menjilat rekannya. Seru sekali karena acara ini juga dikemas dengan tajawwul (jalan-jalan) melewati kampong santri, yang memperlihatkan pemandangan religious. Akhirnya acara outbond ini di akhiri dengan mancing dan nangkap ikan bareng di kolam.

Setelah semua lelah, barulah saatnya bagi peserta untuk bebas refreshing, ada yang mancing ikan, bakar ikan, bermain gadget, pergi jajan dll. Pada saat itu juga, kami melakukan rapat kecil kecilan bersama salah satu anggota peserta untuk membicarakan keberlangsungan generasi ramah 2019. Rapat dadakan itu menghasilkan formatur pengurusan Pra Ramah, yang diketuai oleh Mas Rayhan. Setelah semua selesai maka saatnya lah untuk pulang, kembali menemani sang bunda yang sendirian dirumah.

Itulah serangkaian kegiatan yang bisa kami ceritakan pada tulisan ini. Perlu kita perhatikan bahwa Jantung kejayaan islam terletak pada generasi muda yang memiliki semangat untuk belajar dan mandiri. Terutama  pemuda masjid yang gemar beramar ma’ruf dan nahi munkar di lingkungan masjid, dan paham akan nilai nilai sosial yang harus dilakukan. Pemuda yang seperti ini akan menumbuhkan budaya aktif dan partisipatif, dan menciptakan atmosfer check and balances di internal takmir dan di masyarakat luas pada umumnya.

Sekian.

Wassalamualaikum, Wr, Wb.

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply