Urip Mung Mampir Ngombe

 “Urip Mung Mampir Ngombe” atau “Hidup Itu Cuma Mampir Minum” merupakan pepatah jawa yang sangat mashur. Ungkapan ini sering digunakan untuk memberikan gambaran dan pengingat bagi manusia bahwa hidup di dunia ini hanya sebentar atau sementara. Memang demikianlah adanya, Allah menciptakan manusia dengan batasan usia kehidupan dengan masing-masing mempunyai jatah usianya sendiri. Manusia di masa sekarang seolah lupa dengan pepatah di atas, sehingga hidup mereka berkejar-kerjaran dengan dunia yang seolah akan selamanya berada di sana.

Mari sejenak kita kaji lebih mendalam makna pepatah di atas sebagai bentuk refleksi cara hidup manusia di masa sekarang.

Kata “ngombe” atau “minum” dalam pepatah di atas merupakan penegasan sikap pilihan dalam hidup. Bukan mampir ”madhang” atau “makan” dalam hidup ini, tapi mampir “ngombe” atau “minum”. Manusia akan mati jika tidak minum dan manusia tidak akan mati jika tidak makan. Ini menunjukkan pada kita bahwa hidup ini adalah pilihan untuk memilih sesuatu yang mampu memberikan kehidupan. Sesuatu yang diminum itu adalah air, dan air itu adalah sumber kehidupan seluruh mahluk yang ada di dunia.

Pepatah di atas ingin menyampaikan pesan pada manusia untuk mencari sumber yang memberi kehidupan pada mereka, sehingga mereka dapat menjalani hidup dengan baik.  Allah telah memberikan anugrah kepada manusia dengan mengirimkan manusia agung, yaitu Rasulullah SAW dengan Islam sebagai ajaran yang dapat menuntun manusia menjalani kehidupan. Ibarat air, Islam merupakan sumber kehidupan bagi manusia.

Air turun dari langit melalui hujan, seperti halnya wahyu yang turun dari langit melalui nabi dan rasul. Air hujan yang turun lantas memberikan kehidupan bagi mahluk yang ada di bumi “tumbuhan” untuk menlanjutkan proses kehidupannya sampai muncul bunga yang indah dan bunga pun menjadi buah yang dapat dimakan oleh manusia ataupun hewan . Seperti juga dengan Islam, turun untuk memberikan petunjuk dan cara untuk melanjutkan kehidupan manusia menuju pada kebermanfaatan, kebahagiaan dan keindahan yang telah dijanjikan oleh Allah.

Metodologi berislam adalah dengan cara masuk secara keseluruhan. Seperti halnya saat kita minum segelas teh. Kita tidak dapat memisahkan teh yang sudah larut di dalam air. Berbeda saat kita makan, kita dapat memisahkan antara nasi dengan lauk sebelum kita masukkan kedalam mulut. Seperti minum segelas air, itulah cara berislam. Bagaimana satu dengan yang lain adalah satu kesatuan yang utuh yang tak dapat dipisahkan (mengucap kalimat sahadat, sholat, puasa, zakat, haji).

Berislam dengan benar adalah melaksanakan rukunnya secara keseluruhan dan teratur. Mengucap sahadat, melaksanakan shalat, berpuasa di bulan Ramadhan, membayar zakat, dan menjalankan ibadah haji bagi yang mampu. Seperti halnya saat kita meminum teh, kita masukkan teh, masukkan gula, lalu air dituangkan, diaduk, lalu masukkan ke dalam mulut. Inilah uniknya cara minum, kita tidak bisa membolak-balik urutan. Berbeda dengan makan, kita bisa makan lauk saja atau nasi dan tidak berurutan.

Demikian uraian singkat tentang makna “urip mung mampir ngombe”. Hidup ini cuma sebentar, maka carilah sesuatu yang dapat memberikan kehidupan “air = Islam”, nikmati dan selami kenikmatan ”air = Islam” dengan masuk secara menyeluruh, dan masing-masing dari kita memilik selera, maka mari kita bersama-sama menikmati “air = Islam” sesuai dengan selera kita masing-masing dan bukan untuk kita perdebatkan mana yang lebih benar atau enak. Semoga ini dapat memberikan sedikit renungan bagi kita. Wallahu’alam.

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply